Senin, 15 April 2013

opt pisang kategori patogen


1.      OPT kategori patogen (dengan bagian-bagian deskripsi: judul dengan nama ilmiah, nama penyakit dalam bahasa Indonesia dan Inggris, klasifikasi menurut ITIS, GBIF Data Portal, atau Species Fungorum, deskripsi patogen, gejala dan tanda penyakit, dan pengendalian),

Penyakit layu fusarium atau penyakit Panama disebabkan cendawan yaitu Fusarium Oxysporum f. Sp Cubense ‘[‘(FOC), merupakan penyakit sangat merusak dan paling berbahaya yang menyerang pertanaman pisang di seluruh dunia, sukar dikendalikan, mudah berpindah dan mampu bertahan di dalam tanah dalam jangka waktu yang cukup lama. Penyakit ini menular lewat tanah, menyerang akar dan masuk bonggol tanaman. Di dalam bonggol, cendawan tumbuh dan merusak sistem pembuluh sehingga menyebabkan tanaman layu dan akhirnya mati. Patogen menyerang jaringan empulur batang melalui akar yang luka atau terinfeksi. Batang yang terserang akan kehilangan banyak cairan dan berubah warna menjadi kecokelatan, pada batang kadang-kadang terbentuk akar adventif. Kadang-kadang lapisan luar batang palsu terbelah dari permukaan tanah (Semangun, 1994). Cendawan ini menyerang jaringan pembuluh batang pisang sehingga menyebabkan daun-daunnya menguning. Dengan melubangi batang tanaman yang daunnya tampak menguning layu, akan terlihat jaringan seperti sarang laba-laba yang mongering dan berwarna cokelat. Akibatnya, tanaman sukar berbunga dan apabila mampu berbunga sukar
membentuk buah yang normal (Sunarjono, 1990).
            Tanaman yang terserang tidak akan mampu berbuah atau buahnya tidak terisi. Lamanya waktu antara saat terjadinya infeksi penyakit sampai munculnya gejala penyakit berlangsung kurang lebih 2 bulan (Anonim, 1996). Buah mongering dan tidak merunduk. Namun anakan tampak normal meskipun telah tercemar. Dan bila batang dipotong melintang empulur tampak bersih, sedangkan pada batang palsu terlihat ada bercak berwarna kemerahan (Anonim,1993).
            Gejala yang paling khas adalah gejala dalam terjadi pada pangkal batang. Bila pangkal batang dibelah membujur tampak garis-garis berwarna cokelat atau merah. Gejala sangat bervariasi tergantung pada keadaan tanaman, dan lingkungan, dan biasanya serangan tampak pada tanaman berumur 5-10 bulan (Semangun, 1994). Jika pangkal batang dibelah membujur terlihat garis cokelat atau hitam menuju ke semua arah dari pangkal batang (bonggol) ke atas, melalui jaringan pembuluh pangkal dan tangkai daun. Apabila bonggol pisang yang sakit dibongkar akan tampak sebagian, besar leher akar membusuk dan berwarna kehitam-hitaman (Anonim, 1996).
            Upaya pengendalian yang dapat dilakukan untuk penyakit layu fusarium diantaranya cara kultur teknis dengan pemberian pupuk organik (kompos, pupuk kandang), penjarangan anakan, dipotong (setelah 30 cm) kurang lebih 5 cm dari titik tumbuh, rotasi dengan tanaman bukan inang (misalnya : pepaya, nenas, jagung dan lain-lain), pembuatan drainase, sanitasi lingkungan pertanaman, menghindari terjadinya luka pada akar, menggunakan benih sehat (bukan dari daerah serangan atau rumpun terserang, benih dari kultur jaringan) atau benih baru setiap musim
tanam, sistem pindah tanam setelah tiga kali panen, maksimal tiga tahun, pengapuran atau pemberian abu dapur untuk menaikkan atau menjaga kestabilan pH tanah, dan penggunaan media ampas tebu yang ditambah urea dapat mengurangi perkembangan organisme pathogen (Anonim, 1993). Cara fisik/mekanis dengan penanaman di lahan yang terinfeksi F. oxysporum, bibit tanaman terlebih dahulu dicelupkan ke dalam air hangat sekitar 45o  C selama 15 menit atau dicelupkan ke dalam suspensi musuh alaminya, misalnya Pseudomonas fluorescens. Cara genetika penanaman varietas yang tahan penyakit layu fusarium, sesuai dengan kondisi setempat (Semangun, 1994). Pengendalian dengan cara biologi yaitu dengan aplikasi agens hayati misalnya Trichoderma spp., Gliocladium sp., Pseudomonas fluorescent, Bacillus subtilis sebelum/pada saat tanam  (satu kilogram/lubang tanam) yang diintroduksi bersama dengan kompos dengan perbandingan 1 : 10, atau pada bibit (100 g/bibit). Sedangkan cara kimia
semua alat yang digunakan didisinfektan dengan kloroks satu persen (bayclean yang diencerkan 1 : 5), atau dicuci  bersih dengan sabun, dan injeksi larutan minyak tanah atau herbisida sistemik terhadap tanaman sakit dan anaknnya, sebanyak 5 – 15 ml/pohon tergantung ukuran/umur tanaman. Injeksi ini dapat diulangi hingga tanaman mati (Djatnika et al., 2003).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar