1.
OPT kategori patogen (dengan bagian-bagian deskripsi: judul
dengan nama ilmiah, nama penyakit dalam bahasa Indonesia dan Inggris,
klasifikasi menurut ITIS, GBIF Data Portal, atau Species Fungorum, deskripsi
patogen, gejala dan tanda penyakit, dan pengendalian),
Penyakit layu
fusarium atau
penyakit Panama disebabkan cendawan yaitu Fusarium Oxysporum f. Sp Cubense ‘[‘(FOC), merupakan penyakit sangat
merusak dan paling berbahaya yang menyerang pertanaman pisang di seluruh dunia,
sukar dikendalikan, mudah berpindah dan mampu bertahan di dalam tanah dalam
jangka waktu yang cukup lama. Penyakit ini menular lewat tanah, menyerang akar
dan masuk bonggol tanaman. Di dalam bonggol, cendawan tumbuh dan merusak sistem
pembuluh sehingga menyebabkan tanaman layu dan akhirnya mati. Patogen menyerang jaringan empulur batang
melalui akar yang luka atau terinfeksi. Batang yang terserang akan kehilangan
banyak cairan dan berubah warna menjadi kecokelatan, pada batang kadang-kadang
terbentuk akar adventif. Kadang-kadang lapisan luar batang palsu terbelah dari
permukaan tanah (Semangun, 1994). Cendawan ini menyerang jaringan pembuluh
batang pisang sehingga menyebabkan daun-daunnya menguning. Dengan melubangi
batang tanaman yang daunnya tampak menguning layu, akan terlihat jaringan seperti
sarang laba-laba yang mongering dan berwarna cokelat. Akibatnya, tanaman sukar
berbunga dan apabila mampu berbunga sukar
membentuk buah yang normal (Sunarjono, 1990).
Tanaman yang terserang tidak akan
mampu berbuah atau buahnya tidak terisi. Lamanya waktu antara saat terjadinya
infeksi penyakit sampai munculnya gejala penyakit berlangsung kurang lebih 2
bulan (Anonim, 1996). Buah mongering dan tidak merunduk. Namun anakan tampak
normal meskipun telah tercemar. Dan bila batang dipotong melintang empulur
tampak bersih, sedangkan pada batang palsu terlihat ada bercak berwarna
kemerahan (Anonim,1993).
Gejala yang paling khas adalah gejala dalam
terjadi pada pangkal batang. Bila pangkal batang dibelah membujur tampak
garis-garis berwarna cokelat atau merah. Gejala sangat bervariasi tergantung
pada keadaan tanaman, dan lingkungan, dan biasanya serangan tampak pada tanaman
berumur 5-10 bulan (Semangun, 1994). Jika pangkal batang dibelah membujur
terlihat garis cokelat atau hitam menuju ke semua arah dari pangkal batang
(bonggol) ke atas, melalui jaringan pembuluh pangkal dan tangkai daun. Apabila
bonggol pisang yang sakit dibongkar akan tampak sebagian, besar leher akar
membusuk dan berwarna kehitam-hitaman (Anonim, 1996).
Upaya
pengendalian yang dapat dilakukan untuk penyakit layu fusarium diantaranya cara
kultur teknis dengan pemberian pupuk organik (kompos, pupuk kandang),
penjarangan anakan, dipotong (setelah 30 cm) kurang lebih 5 cm dari titik
tumbuh, rotasi dengan tanaman bukan inang (misalnya : pepaya, nenas, jagung dan
lain-lain), pembuatan drainase, sanitasi lingkungan pertanaman, menghindari
terjadinya luka pada akar, menggunakan benih sehat (bukan dari daerah serangan
atau rumpun terserang, benih dari kultur jaringan) atau benih baru setiap musim
tanam, sistem pindah tanam setelah tiga kali panen,
maksimal tiga tahun, pengapuran atau pemberian abu dapur untuk menaikkan atau
menjaga kestabilan pH tanah, dan penggunaan media ampas tebu yang ditambah urea
dapat mengurangi perkembangan organisme pathogen (Anonim, 1993). Cara fisik/mekanis
dengan penanaman di lahan yang terinfeksi F. oxysporum, bibit tanaman
terlebih dahulu dicelupkan ke dalam air hangat sekitar 45o C selama 15 menit atau dicelupkan ke dalam
suspensi musuh alaminya, misalnya Pseudomonas fluorescens. Cara genetika
penanaman varietas yang tahan penyakit layu fusarium, sesuai dengan kondisi
setempat (Semangun, 1994). Pengendalian dengan cara biologi yaitu dengan
aplikasi agens hayati misalnya Trichoderma spp., Gliocladium sp.,
Pseudomonas fluorescent, Bacillus subtilis sebelum/pada saat
tanam (satu kilogram/lubang tanam) yang
diintroduksi bersama dengan kompos dengan perbandingan 1 : 10, atau pada bibit
(100 g/bibit). Sedangkan cara kimia
semua alat yang digunakan didisinfektan dengan kloroks
satu persen (bayclean yang diencerkan 1 : 5), atau dicuci bersih dengan sabun, dan injeksi larutan
minyak tanah atau herbisida sistemik terhadap tanaman sakit dan anaknnya,
sebanyak 5 – 15 ml/pohon tergantung ukuran/umur tanaman. Injeksi ini dapat diulangi
hingga tanaman mati (Djatnika et al., 2003).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar